Luffy - One Piece

Selasa, 30 Desember 2014

film film dengan twist ending mengejutkan


ini nih listnya.....


Disutradarai Sidney Lumet, Murder on the Orient Express yang bertabur bintang ini sebenarnya merupakan adaptasi dari novel karya Agatha Christie yang berjudul sama. Sesuai judulnya yang tak memiliki metafora apapun, memang bercerita tentang pembunuhan di atas kereta api. Dalam penyelidikannya, detektif berkepala telur dengan sel otak abu-abu, Hercule Poirot, disuguhkan beberapa hal-hal yang terdengar mustahil, seperti wanita berkimono naga yang misterius. Semakin bertambah menit, maka kemustahilan itu makin nampak. Namun, saat itu juga Poirot mengungkapkan dua buah solusi, dan salah satu dari dua solusi itu merupakan kejutan besar yang tak pernah diprediksi orang (kecuali yang sudah membaca novelnya, seperti saya).


Inilah awal dari franchise saingan utama franchise Final Destination, Saw. Sayang, makin berkembang franchise ini, makin memburuklah kualitasnya. Bersyukurlah, karena franchise ini telah berakhir. Sepanjang menit, Saw yang disutradarai sutradara keturunan Malaysia, James Wan, ini hanya dihiasi oleh 2 orang pria yang dikurung di sebuah ruangan jorok entah dimana. Lewat petunjuk-petunjuk yang ada, mereka berusah untuk keluar dari ruangan itu, sembari mengingat apa yang terjadi saat mereka ditangkap dan mengapa? Tapi, itu bukanlah pertanyaan yang tepat jika anda menonton Saw. Pertanyaan yang paling tepat adalah: "Siapakah Jigsaw?"


Kahaani, which means story, adalah salah satu film Bollywood favorit saya sejak 3 Idiots. Berbanding terbalik dengan film Bollywood lain, dalam Kahaani, tak ada tarian, nyanyian, bersembunyi di balik pohon berduaan hingga berlari-lari, atau berhujan-hujanan. Kahaani adalah pure drama thriller seperti yang banyak terdapat dalam Hollywood sana. Tapi, bukan berarti Kahaani tak punya nilai istimewa. Kahaani mampu mencampuradukkan citarasa Hollywood dengan budayanya sendiri. Saya jatuh cinta bagaimana Kahaani mengekspos keindahan budaya India lewat sinematografinya itu. Apalagi? Tentu saja hal yang paling dapat diingat dari Kahaani selain percampuran tadi adalah endingnya yang mengejutkan. Saya pun yang awalnya sedikit bingung dengan judul 'kahaani' atau 'cerita', dapat mengerti maksud judul itu yang sebenarnya.


Cerita Citizen Kane sebenarnya sederhana saja: mencari tahu arti kata terakhir seorang milyuner kenamaan., Charles Foster Kane Kata terakhirnya pun sangatlah simpel, yaitu 'rosebud'. Lewat satu kata itu, kita kembali dibawa ke masa muda hingga kesuksesannya. Saat ia berada dalam sisi atas, hingga sisi bawah sekalipun. Ketika kita sudah seperti putus asa akan pencarian ini, perlahan ia kembali menunjukkan tajinya, mengungkapkan arti kata 'rosebud' yang sebenarnya. Hal yang saya sangat suka dari ending ini adalah bagaimana film ini menyampaikannya tidak secara gamblang melalui verbal, namun membiarkan penonton sejenak berpikir. Sederhana, sangat sederhana bahkan, namun ending ini punya sesuatu dengan arti yang begitu mendalam.


Film karya sutradara Alejandro Amenábar ini memang sangat kelam. Dibintangi oleh Nicole Kidman, awalnya The Others mungkin terlihat seperti film dengan rumah hantu biasa, bahkan hantunya pun tak pernah menampakkan wujudnya. Suasana bertambah creepy ketika Nicole Kidman mempekerjakan tiga orang pembantu yang misterius, seorang wanita bisu, seorang wanita tua, dan seorang kakek berumur. Masih belum cukup creepiness dalam film ini, ditambah lagi dengan keadaan kedua anak Nicole Kidman yang sensitif terhadap cahay matahari, yang membuat rumah tersebut sepanjang hari gelap gulita. Semua hal dalam The Others ini kemudian ditutup oleh ending yang bukan hanya super duper creepy, tapi juga hugely shocking.


Incendies adalah official entry Kanada untuk Best Foreign Languange Oscar 2011, dan berhasil masuk nominasi, meski akhirnya harus mengalah dengan film asal Denmark, In A Better World. Kisahnya tentang  perjalanan dua orang saudara kembar ke Timur Tengah demi memenuhi permintaan terakhir ibu mereka. Tanpa mereka sadari, sebenarnya itu semua mengarahkan dua saudara kembar ini ke sebuah rahasia besar tentang keluarga mereka. Denis Villeneuve, sang sutradara, berhasil mengadaptasi sebuah drama dengan sangat baik. Hasilnya, sebuah thriller misteri dengan jalan cerita yang bahkan tak ada yang tahu akan bermuara kemana cerita itu.


Sepuluh orang secara tak sengaja terjebak di sebuah motel, termasuk John Cusack, John Hawkes, dan Amanda Peet. Namun, masalah besarnya bukanlah itu, semua ini hanyalah sebuah awal. Masalah bertambah besar saat satu persatu dari mereka dibunuh dengan misterius. Sebaliknya, ada kisah lain yang jauh berbeda dari terjebaknya sepuluh orang tersebut, namun akhirnya akan saling bertemu dan berhubungan, dan mungkin akan mengejutkan anda. Tapi, ada yang lebih mengejutkan dibanding itu, sesuatu yang sebenarnya agak sulit dipercaya.


Sebelum memenangkan Oscar karena menjadi seorang suami payah yang doyan ABG di American Beauty, Kevin Spacey pernah menjadi satu-satunya saksi kunci dari sebuah tragedi mengenai seorang kriminal besar bernama Seyzer Koze dalam The Usual Suspects, film drama kriminal arahan Bryan Singer yang mendapatkan sambutan baik, meski poster dengan bayangan-bayangan aneh itu menganggu. Terlepas dari itu, The Usual Suspects tetaplah sebuah film yang tak terlupakan. Mungkin beberapa orang telah memprediksinya (beruntung, itu bukan saya), tapi sebenarnya ada sesuatu yang lebih spesial dan jenius di baliknya. Film ini memiliki jalinan cerita yang cerdas sekaligus kuat, sayangnya semua sudah terlambat ketika mereka menyadarinya.


Saya tak pernah mendapatkan info bahwa pemenang Best Foreign Languange Film perwakilan Argentina dalam Oscar 2010 ini memiliki ending yang sama sekali tak terkira. Cerita dalam The Secret in their Eyes sebenarnya tak terlalu rumit, tentang seorang pensiunan konselor hukum yang akan menulis novel tentang kasus pembunuhan yang dulu ia pernah tangan, tapi sampai sekarang kasus itu belum terpecahkan. Demi menulis novel ini, ia kembali bertemu dengan mantan atasannya yang sejak dulu ia cintai. The Secrect in Their Eyes adalah tipe film yang menjabarkan setiap drama serta misterinya dengan sangat tenang dan dikemas dengan baik dari awal hingga akhir film, saat kita dikejutkan oleh fakta tak terduga.


Kalau yang ini, saya benar-benar tak bisa berkata apa-apaPerasaan aneh, kaget, lucu, dan agak konyol langsung bersatupadu ketika mengetahui rahasia besar dalam The Crying Game. Khusus untuk film ini, memang momen mengejutkannya bukanlah terletak pada ending, melainkan pada bagian pertengahan durasi. Tapi, saking mengejutkannya momen itu, maka untuk kali ini saya beri pengecualian. Shocking moment dari The Crying Game memang berbeda dari yang lainnya. Mengapa? Ah, untuk menjelaskannya saja, saya sudah kebingungan.


Ada Jack Nicholson di sini, bersama dengan Faye Dunaway. Keduanya menciptakan sebuah tontonan hebat dengan jalinan yang kuat diantara keduanya. Roman Polanski sendiri menyuguhkan drama misteri yang tak kalah hebatnya. Kisahnya tentang seorang detektif yang menginvestigasi sebuah kasus pembunuhan yang memiliki hubungan dengan air. Twist yang dihadirkan sendiri tidaklah terlalu megah dan besar, namun tak dapat disangkal lagi, kenyataan itu memang sangat menghentak. Sebuah tamparan besar bagi kita semua, termasuk Jack Nicholson, meskipun, yang mendapatkan tamparan sebenarnya adalah Faye Dunaway.


Selepas Gigli yang dicerca habis-habisan, Ben Affleck memulai 'kehidupan' barunya, sebagai seorang sutradara, dan secara mengejutkan, itu berhasil. Ben Affleck mendaulat adiknya sendiri, Casey Affleck sebagai detektif khusus orang hilang bersama Michelle Monaghan yang menyelidiki kasus hilangnya seorang anak perempuan dari seorang ibu pecandu narkoba, yang diperankan dengan sangat istimewa oleh Amy Ryan. Ben Affleck membawa kita ke sebuah thriller misteri menegangkan, dan ketika kita kira semuanya telah berakhir, ternyata itu semua masih setengah jalan, dan ketika kita kira semuanya telah berakhir lagi dengan cara yang mengejutkan, ternyata itu masih tiga perempat jalan, hingga akhirnya Affleck kembali menutupnya dengan penuh kejutan istimewa.



We always love Nolan's work! Dan Memento, karyanya yang bergaya neo-noir ini adalah salah satu masterpiece milknya, dengan menampilkan Guy Pearce sebagai pria penuh tato yang ingin balas dendam atas kematian istrinya. Uniknya, di sini Guy Pearce diceritakan mengalami short-term memory loss, yang membuatnya tak dapat mengingat apapun setelah sekita 10 menit kejadian itu terjadi. Tato-tato di tubuhnya pun, bukanlah tato sembarangan. Itu adalah satu-satunya petunjuk yang dapat membawanya ke pembunuh sang istri. Ada yang lebih unik, yaitu dengan editing film ini, yang membuat kita seperti merasakan apa yang karakter Pearce rasakan. Oh, belum terlalu unik? Tunggu hingga endingnya tiba, dan anda akan menghadapi sebuah mimpi buruk.


Film yang berjudul asli El Orfanato ini merupakan salah satu misteri thriller asal Spanyol yang paling populer (dan salah satu yang terbaik). The Orphanage memang sedikit mengingatkan saya dengan The Others, bukan karena cerita atau twist yang sebenarnya berbeda jauh, namun karena film ini memiliki creepiness yang luar biasa. Sambili membangun atmosfer kelam dan gelap itu, The Orphanage tampil dengan sangat misterius, sembari ada Belén Rueda mencari-cari anaknya yang hilang entah kemana. Lalu, ke mana anaknya hilang? Itu adalah misteri terbesar dalam film ini, yang semuanya akan terjawab yang membuat siapa saja mungkin takkan siap dengan jawabannya.


Salah satu keistimewaan film ini adalah bintangnya, ada Jeff Bridges, Tim Robbins, dan Joan Cusack. Ceritanya sendiri sedikit mengingatkan saya terhadap film Alfred Hitchcock, Rear Window. Kisahnya dimulai ketika Jeff menyelamatkan nyawa anak Tim, yang membuat kedua keluarga mereka menjadi dekat, namun suatu hari, Jeff Bridges mencurigai tetangganya sendiri sebagai seorang teroris. Tentu, ketakutan utamnya, terletak pada anaknya yang sangat akrab dengan anak Tim dan bahkan sangat sering bermain di rumah keluarga Tim Robbins. Ia pun menyelidiki riwayat Tim, dan penulusurannya tersebut membawa penonton ke akhir yang sama sekali tak terduga.






Planet of the Apes sesungguhnya memiliki premis yang sangat menarik. Empat orang astronot berkelana ke sebuah planet, meski akhirnya salah satu dari mereka harus meninggal dalam perjalanan. Di planet itu terdapat banyak sekali keanehan. Bukan hanya atmosfirnya yang dapat dihirup manusia, tapi juga bagaimana kehidupan di sana begitu terbalik jika dibandingkan dengan bumi. Ya, di sana ada manusia memang, tetapi manusia tidak lagi menjadi makhluk tertinggi tingkatannya, melainkan para kera lah yang menguasai planet tersebut. Anehnya lagi, kera tersebut dapat berbicara dan bernalar, sedangkan manusia? Berbicara saja tak bisa, bagaimana mau bernalar? Pada akhirnya, Planet of the Apes membawa kita ke kesimpulan mengejutkan (tips: jika ingin menontonnya, jangan sekali-kali melihat poster film ini). What a conclusion!



Oldboy mungkin adalah film asal Korea Selatan terbaik yang pernah saya tonton (atau kalau ingin lebih lebar, Asia?). Kali ini bukan soal romansa komedi, tapi soal pembalasan dendam. Merasa seorang maniak film bertema sama, tapi belum pernah menonton Oldboy? Kalau begitu, anda tidaklah semaniak itu. Saran? Segera tonton ini, karena Oldboy adalah sebuah keharusan. Plot yang diberikan benar-benar cerdas dan sama sekali tak dapat diterka, menghasilkan sebuah tamparan hebat yang menyedihkan. Ini adalah pencapaian terbaik yang pernah ada dalam film bertemakan balas dendam... and guess what? It's not Hollywood.


Sama seperti Psycho, ending film ini memang sudah seperti legenda tersendiri. Ini adalah masa ketika M. Night Shyamalan masih belum dicerca para penikmat film dunia, saat ia disangka-sangka akan menjadi salah satu sutradara terhebat dalam sejarah. Lupakan saja The Last Airbender atau The Happening, The Sixth Sense berkali-kali lipat lebih baik. Dalam film ini, Bruce Willis bukan lagi seorang yang susah mati seperti Die Hard, ia sudah bertransformasi menjadi seorang yang lebih lembut. Ada pula Haley Joel Osment yang tampil gemilang. M. Night Shyamalan berhasil mengelabui kita semua. Ia membuat hal-hal yang kita kira sebenarnya terjadi, namun sebenarnya, kenyataannya bukanlah seperti itu.




The Prestige memang merupakan salah satu film terbaik Christopher Nolan, yang seluruh filmnya, memang terbaik, tanpa terkecuali. The Prestige adalah ketika kawan menjadi lawan. Dibintangi oleh dua aktor kenamaan Hollywood, Hugh Jackman dan Christian Bale sebagai dua magician, The Prestige tampil sebagai film misteri thriller yang menakjubkan. Siapa pun rasanya tak akan bisa mengungkapkan trik sulap Bale, bahkan rivalnya sendiri, Jackman, juga tak pernah tahu trik dibalik sulapnya, sampai ketika Nolan memilih untuk mengakhiri kisahnya, mengejutkan semua orang. Bukan hanya semua orang, Hugh Jackman pun pastinya juga terkejut.



Saya menonton film ini tanpa ekspektasi apa-apa. Satu-satunya alasan saya menonton film ini hanya karena Witness for the Prosecution ini diangkat dari salah satu karya Agatha Christie. Dan alangkah terkejutnya, ketika kita mulai digiring ke akhir film, di saat Witness for the Presecution membuka lembaran-lembaran rahasia miliknya secara perlahan. Itu pun, bukan hanya satu, tapi dua! Ya, anda akan dikejutkan oleh dua lapisan twist yang sangat spektakuler. Konklusi hebat ini juga masih dihias oleh satu lagi hal yang begitu tragis. 



Psycho adalah salah satu pelopor twist ending dalam perfilman dunia. Bahkan, hingga sekarang masih banyak film yang memakai ending serupa. Saking populernya film ini (terutama endingnya), adalah sebuah keajaiban jika anda berhasil menonton Psycho tanpa bocoran atau spoiler sama sekali. Ya, thriller karya seorang Alfred Hitchcock ditambah dengan sebuah akhir yang unpredictable? Karya yang rasanya sangat sempurna. Sepanjang durasinya, Psycho terus menjalar menjadi sebuah 'pembunuh' psikologis yang amat menakjubkan. Psycho adalah satu-satunya film yang membuat siapa saja tak pernah berani membiarkan pintunya tak terkunci ketika sedang mandi. Siapa tahu...


Vertigo adalah salah satu film terbaik persembahan Alfred Hitchcock. Memang masih kalah pamor dengan Psycho, karyanya yang paling populer. Padahal, saya pribadi menganggap Vertigo sedikit lebih baik daripada Psycho, lengkap dengan ending yang tak kalah mengejutkannya. Dalam Vertigo, Alfred Hitchcock membawa kita ke sebuah 'peranakan' genre, yaitu romansa dan suspense. Hasilnya pun, benar-benar menakjubkan dan semuanya mampu mendapat porsi dan bercamur dengan sangat baik. Perpaduan ini menghasilkan salah satu plot terkompleks yang pernah ada, yang kemudian ditutup dengan one of the greatest conclusion ever.



Dalam hal perfilman tanah Eropa, Prancis memang surganya film-film juara. Dari klasik Diabolique hingga romansa zaman sekarang, Rust and Bone, semuanya memiliki kualitas juara. Di antara rentang waktu kedua film ini yang begitu panjang, Tell No One merupakan salah satunya. Film ini merupakan sebuah adaptasi novel karya Harlan Coben yang disutradarai oleh Guillaume Canet dan dibintangi  François Cluzet. Tell No One merupakan sebuah thriller yang intens dan solid, dramanya miris dan manis, dan penuh dengan misteri. Secara keseluruhan, cerita yang dituturkan Tell No One benar-benar di luar dugaan. Sama seperti judul filmnya, jangan katakan apapun kepada siapapun mengenai isi film ini, kecuali kalau anda ingin mengatakan bahwa François Cluzet mirip dengan Dustin Hoffman.

Pernah menonton Psycho dari Alfred Hitchcock? Terserah sudah pernah atau belum, tapi sekedar info saja, Diabolique lah film yang membantu inspirasi seorang Hitchcock hingga akhirnya ia berhasil dengan Psycho-nya. Diabolique juga merupakan suspense favorit dari penulis novel Psycho, Robert Bloch. Kalau boleh jujur, saya sebenarnya lebih menyukai Diabolique ketibang Psycho. Diabolique memiliki sebuah misteri yang benar-benar menggiurkan. Siapa yang tidak penasaran, membuang mayat dalam sebuah kolam renang, namun beberapa hari kemudian, mayat itu menghilang secara tiba-tiba? Kemana perginya mayat itu? Apakah mayat tersebut berubah menjadi zombie yang siap menerkam siapa saja? Ataukah ada orang lain yang mengambilnya? Berbagai macam spekulasi tentang misteri ini terus bermunculan seiring misteri yang dituturkan, tapi tak ada satupun dari spekulasi itu yang benar...



Brad Pitt dan Morgan Freeman dalam satu frame, sepasang partner detektif! Ah, hampir lupa, ada pula Kevin Sacey! Gwyneth Paltrow! Who's excited?! Ya, meski judulnya sedikit alay, tapi Se7en memiliki ensemble cast berkelas dengan sutradara kelas A, David Fincher. Se7en sendiri terinspirasi dari salah satu kisah dalam alkitab, Seven Deadly Sins, yang menjadi sebuah 'modus operandi' seorang pembunuh berantai dalam film ini. Ya, kita ditampilkan para mayat yang bertebaran dalam Se7en, dengan embel-embel sifat -sifat alami setiap manusia. Namun, ada sesuatu yang kita semua tak ketahui, termasuk Brad Pitt dan Morgan Freeman sendiri. "What's in the box?!"




Brad Pitt kembali beraksi, namun kali ini, tak ada Morgan Freeman, Kevin Spacey, ataupun Gwyneth Paltrow. Sebagai gantinya, ada Edward Norton dan Helena Bonham Carter. Setelah Brad Pitt pensiun sebagai seorang detektif, kini ia banting setir menjadi seorang sales sabun dan mengganti namanya menjadi Tyler Durden. Sedangkan Edward Norton adalah seorang pekerja kantoran tak bernama yang bosan hidup,  dan Helena Bonham Carter adalah wanita semrawut yang tak takut mati. Brad Pitt dan Edward Norton kemudian secara tak sengaja bertemu dan membentuk sebuah klub tinju bawah tanah yang super gila. Akhirnya? Bahkan jauh lebih gila lagi.




Rosemary's Baby sebenarnya mengambil tema yang kontroversial dan sangat berani. Mengambil sebuah tema satanisme atau pemujaan setan, Roman Polanski sebagai sutradara mampu menggiring kita ke sebuah horor klasik berkelas yang dipimpin oleh aktris Mia Farrow yang diceritakan baru saja menikah dan sedang mengalami kehamilan. Tapi, ada satu rahasia besar yang ia tak ketahui. Mungkin beberapa orang telah tahu bagaimana Rosemary's Baby akan mengalir, tapi ketika satu-persatu rahasianya mulai terbuka dengan perlahan, ternyata apa yang terjadi malah melebihi perkiraan. Tak salah lagi jika menobatkan Rosemary's Baby sebagai salah satu film dengan ending yang paling memorable yang pernah ada.



Inilah awal masa bersinarnya seorang Edward Norton. Lewat film yang berhasil membuahkannya sebuah nominasi Oscar ini, ia memerankan seorang anak altar yang dituduh telah menghabisi nyawa uskupnya sendiri. Ia sendiri dibantu oleh seorang pengacara ambisius yang diperankan Richard Gere. Primal Fear berhasil tampil gemilang dengan dialog-dialog cerdas dan akting memukau Ed, meski sebenarnya, pertanyaan dalam film ini cukup sederhana: "Apakah benar ia membunuh sang uskup, atau tidak? Lalu, siapa yang melakukannya?" Dan pada akhirnya, Primal Fear menjawab segala pertanyaan itu dengan sebuah fakta menghenyakkan.



Stanley Kubrick kini mencoba ranah horor, dengan mengungkapkan sebuah misteri aneh tentang sebuah hotel besar yang dibintangi aktor beralis aneh pula, Jack Nicholson. Apa yang membuat ini lebih istimewa? Stephen King! Ya, The Shining adalah sebuah adaptasi dari novel kenamaan milik Stephen King. Dengan membawa angin yang agak bernuansa puzzling dan surreal, Stanley Kubrick mampu membuktikan bahwa dirinya memanglah salah seorang sutradara hebat, bukan hanya pada masanya, tapi juga sepanjang zaman. Jack Nicholson tampil gemilang dalam menampilkan peran ayah yang penuh ambigu. Saya bukan hanya berbicara bagaimana transformasinya menjadi seorang ayah berdarah dingin, tapi juga bagaimana film ini mengungkapkan sebuah akhir yang mengundang tanda tanya besar.


Star Wars episode ke-5 yang sejatinya merupakan film Star Wars kedua setelah episode 4 (episode 1 hingga 3 difilmkan sekitar tahun 2000an karena teknologi yang ada lebih memungkinkan) ini berhasil menjadi film science fiction paling memorable dengan salah satu villainpaling memorable pula sepanjang sejarah Hollywood, Darth Vader, yang terkenal dengan kostum khasnya itu. Di sini, Putri Leia, Han Solo, dan Luke Skywalker kembali beraksi ditemani R2-D2, Chewbacca, dan (lagi), salah satu robot paling memorablesi android cerewet C-3PO. Oh, jangan lupa, Star Wars episode ini juga diakhiri oleh (lagi dan lagi) salah satu ending paling memorablejuga sama sekali tak terduga, kecuali bagi yang fasih berbahasa Jerman (well, if you know what i mean).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar